
Halo Warga CeDe, kembali lagi ke segmen review kami. Kali ini, kami kedapatan sebuah mobil EV yang menurut kami cocok bagi anda yang sedang mencari EV pertama anda atau yang mencari EV terjangkau yang tidak terasa “kopong”. Inilah review Geely EX2 PRO!
Mobil yang berada di tangan kami selama kurang lebih 4 hari ini membuat kami mengerti jika kelas entry level EV itu sangat istimewa; walaupun tipe termurah, mobil tersebut tetap memiliki nilai tersendiri yang menjadikannya sama menariknya dengan tipe teratas. Hal itu berlaku di EX2 tipe PRO ini, dan kami mengaku jika tipe terbawah dari mobil ini menjadi pilihan yang logis. Perbedaannya hanya sedikit dengan tipe teratas EX2, yaitu MAX, namun apa yang ditawarkan dari mobil ini tergolong all-out. Kudos to Geely! Yuk, mari kita kupas mobil ini.
Geely sendiri sebenarnya bukan nama baru di Indonesia. Sejatinya, Geely memulai kiprah perjalanannya di Indonesia pada 2009, dengan 3 model yang menjadi senjatanya pada waktu itu; Geely MK Sedan, Geely MKII Hatchback, dan Geely Panda yang saya sendiri sempat punya circa 2014-an. Good times kalo boleh jujur. Namun sayangnya, karena belum beruntung, Geely Indonesia tutup pada 2017 hingga akhirnya masuk lagi pada 2025 kemarin. Geely comeback dengan EX5, lalu disusul dengan Starray EM-i yang merupakan produk PHEV pertama dari Geely di Indonesia, dan akhirnya EX2 yang menjadi produk EV kedua.
EX2 sendiri merupakan pilihan EV berukuran kompak dari Geely. Apa yang ditawarkan dari mobil ini sebenarnya selayak umumnya mobil listrik kompak; desain lucu, ukuran bodi mobil yang sangat pas untuk penggunaan dalam kota, fitur-fitur yang fungsional walaupun bukan tipe teratas, serta harga yang cukup terjangkau. Namun, EX2 mempunyai kelebihan lain yang menurut kami cukup berbeda dibanding para kompetitornya. Kami merasa jika Geely fokus di bagaimana mobil ini terasa nyaman saat dikendarai, utamanya jika dibandingkan dengan mobil yang masih bermesin konvensional atau ICE. Sebagai pecinta sekaligus pengguna dari compact hatchback Jepang era 2010, saya merasa EX2 ini menjadi homage yang respectful terhadap hatchback-hatchback yang lahir di era tersebut.
Tak perlu lama-lama, saat memegang EX2 ini kami langsung mencoba mobil ke rute yang cukup beragam, mulai dari daerah padat di tengah ibu kota Jakarta hingga Depok untuk mengetahui bagaimana Geely sangat serius dalam membuat mobil ini. Yuk kita kupas bersama-sama!
Desain eksterior yang imut namun tetap terlihat elegan

Jika ada yang mengatakan kalau EX2 ini mobil yang imut, maaf nih saya mau koreksi sedikit. Betul, EX2 ini memang imut, terlihat dari buritan depan yang memiliki tema desainnya bertema ‘Feather’ yang dikombinasi dengan keseluruhan “golden ratio” pada desain mobil ini. Namun, perpaduan desain lampu utama berbentuk oval yang Geely menyebutnya ‘feather-flow’ serta bentuk body yang “menggumpal” kalau menurut saya, membuat desain keseluruhan EX2 ini terkesan elegan dan bersih disaat yang bersamaan. Satu hal yang saya sadari dari mobil ini adalah garis desain bodinya yang sederhana; tidak terlalu out of box namun tetap bersahaja tidak terlalu polos. Kudos buat Geely!
Kemudian desain yang elegan tadi, didukung juga ukuran EX2 yang kompak. Dengan panjang 4.135 mm dan lebar 1.805 mm, Geely EX2 ini terasa ideal sekali untuk mengarungi jalan perkotaan, utamanya jika harus bermanuver di jalan sempit. Walaupun ukurannya tergolong kompak, EX2 masih nyaman saat dibawa ke jalan tol karena tidak terasa kecil sama sekali.

Karena Geely EX2 yang kami coba adalah tipe PRO, detail-detail eksteriornya pun juga bernafas “entry-level”. Berbeda dengan varian MAX yang sudah menggunakan pelek Alloy dual-tone 16 inci, varian PRO masih menggunakan pelek kaleng hitam 15 inci dengan dop aerodinamis yang menurut kami desainnya lucu. Bahkan, ada salah satu anggota tim redaksi kami mengatakan, jika EX2 PRO ini lebih pas desain velgnya dibanding EX2 MAX. Hmm…..mungkin masing-masing punya selera ya. Pilihan warnanya pun juga masih one-tone tanpa atap hitam seperti varian MAX. Walau begitu, EX2 PRO justru terlihat clean; simpel dan tidak berlebihan sehingga tetap enak dipandang walaupun bukan tipe tertinggi.

Satu hal lagi yang kami apresiasi dari EX2 PRO adalah lampu depan dan belakangnya yang tidak dibedakan dengan tipe MAX. Hal kecil memang, tapi hal ini menurut kami membuat mobil ini tidak “dianaktirikan” oleh Geely. Jadi walaupun ini tipe terendah, mobil ini tetap mendapatkan teknologi lampu yang menurut kami sorotnya terang dan membantu visibilitas saat berkendara malam hari. Poin positif bagi mobil ini.
Interiornya yang minimalis namun tetap fungsional

Beralih ke interior dari mobil ini, Geely EX2 langsung memberikan kesan pertama yang baik lewat desain dasbor yang modern dan bersih serta minim tombol fisik. Walaupun tidak ada bahan soft touch atau bahan empuk di dasbornya, bahan interiornya jauh dari kesan mobil murah yang biasanya banyak memakai material murahan. Walaupun, untuk tipe terendah, interior dari EX2 PRO ini memiliki kombinasi warna yang agak “membosankan”, dengan dominasi warna hitam dengan kombinasi abu-abu tua dan silver pada beberapa panel.

Bintang utama dari interior mobil ini adalah head unit 14,6 inci yang berdiri tegak di tengah dashboard. Hampir semua pengaturan kendaraan dipusatkan di layar ini, mulai dari AC, mode berkendara, pengaturan regenerative braking, hingga informasi baterai. Perlu diakui, saya perlu sedikit adaptasi karena hampir semua fungsi penting diakses lewat layar sentuh. Namun setelah beberapa saat, menu yang ada di layar sentuh ini sangat mudah dipahami, yang dibantu juga dengan respons dari layarnya yang cekatan. Sangat cocok bagi anda yang pertama kali menggunakan mobil EV sebagai mobil harian anda.
Untuk kebutuhan hiburan, EX2 PRO sudah menyediakan Android Auto dan Apple CarPlay walaupun koneksinya masih memerlukan kabel dan belum wireless. Untuk bagian panel instrumen, terdapat layar digital 8,8 inci di balik setir yang tampil sederhana namun tetap informatif dengan data kendaraan yang mudah dibaca serta tidak terlalu ramai animasi di layarnya.

Walaupun begitu, ada sedikit catatan untuk interior EX2 PRO ini, utamanya jika dibandingkan dengan tipe MAX. Tipe terendah EX2 ini tidak memiliki ambient lighting yang memiliki siluet ‘urban starlight’ seperti di EX2 MAX. Namun, saya pribadi lebih senang dengan interior yang ada di EX2 PRO ini yang tidak memiliki ambient lighting. Karena menurut saya, fitur tersebut jika saat malam hari lumayan mengganggu pandangan menyetir. Kembali lagi, menurut preferensi masing-masing ya kalo perihal ini. Kepraktisan interior EX2 PRO pun bukan main-main, dengan total kompartemen yang tersedia di mobil ini mencapai 36 kompartemen. Jadi anda tidak perlu cemas untuk menyimpan barang anda di mobil ini.

Kok enak ya?
Cukup membahas bagian interior dan eksterior beserta fitur-fiturnya, kini kita bahas bagian paling favorit di Cardrive; rasa berkendaranya. Hal pertama kami sadari dari EX2 tipe termurah ini adalah bagaimana rasa joknya saat berkendara, utamanya jok untuk pengemudi dan penumpang depan.

Walaupun bahan jok yang ada EX2 PRO ini terasa kurang mewah, menurut kami inilah jok terbaik pada EV Entry Level yang ada di pasaran saat ini; ergonomi diperhitungkan dengan baik sehingga terasa nyaman saat diduduki. Posisi duduk yang pas, yang menurut saya 11-12 dengan Yaris Bakpao, membuat EX2 PRO ini terasa menyenangkan saat dikemudikan. Busa dari jok mobil ini juga terasa pas keempukannya. Apalagi dengan visibilitas ke depan yang sangat jelas, didukung dengan ujung kap mesin masih terlihat dengan jelas saat berkendara, serta ruang kabinnya yang cukup lega semakin EX2 ini terasa mobil yang nyaman untuk digunakan sehari-hari.

Baris kedua dari mobil ini pun juga tidak kalah nyamannya, dengan legroom yang lega dan jok yang cukup lebar untuk penumpang dewasa. Hanya saja, jok baris kedua dari mobil ini terasa sedikit terlalu tegak dan absennya armrest tengah yang membuatnya sedikit kurang nyaman untuk ditumpangi dalam jangka waktu lama atau jarak berkendara yang jauh. Walaupun begitu, dengan ukuran velg 15 inci yang dimiliki EX2 PRO ini terasa nyaman saat melewati permukaan jalan yang tidak rata. Bagi saya yang setiap hari menggunakan mobil atau motor dengan suspensi berkarakter firm, rasanya EX2 PRO ini seperti sebuah kapas berjalan dengan profil ban tebalnya. Apalagi dengan dimensinya yang ringkas dengan radius putarnya yang kecil di angka 4,95 meter, membuat mobil ini cocok menjadi daily driver yang ringkas namun tetap memanjakan anda dengan bantingan suspensinya yang terasa nyaman.

Dari sisi performa, EX2 termurah ini dibekali dengan baterai LFP berkapasitas 40,8 kWh dengan klaim jarak tempuh hingga 395 kilometer berdasarkan standar NEDC, yang memberikan energi ke motor listrik Permanent Magnet Synchronous Motor (PMSM) bertenaga 85 kW (sekitar 115 hp) dengan torsi maksimum 150 Nm. Bukan figur yang fantastis memang untuk sebuah hatchback EV, namun semua tenaga tersebut disalurkan ke roda belakang yang menjadikan EX2 ini berpenggerak belakang alias Rear Wheel Drive (RWD). Dengan karakteristik RWD yang terasa natural saat menyalurkan tenaganya, sensasi berkendara EX2 PRO ini terasa berbeda dengan EV entry level kebanyakan yang menggunakan format penggerak depan (FWD); distribusi torsi instan dari EX2 ini terasa halus dengan respon tenaganya yang menurut kami, sangat “mature” untuk EV entry level.
Dengan karakter torsi instan khas EV yang ada di mobil ini, EX2 ini terasa sangat mudah dikontrol, terutama saat dipakai dalam mode berkendara yang lebih santai. Respons pedalnya pun juga terasa menyenangkan, dengan tiga mode berkendara yang tersedia; Eco, Comfort, dan Sport atau Power. Masing-masing mode punya karakter tersendiri, dengan Eco yang membuat respons EX2 ini menjadi sangat kalem, Comfort yang membuat respons gas mobil ini terasa natural dan halus untuk lalu lintas perkotaan yang menjadi rute pengetesan kami terhadap mobil ini, dan Sport yang menurut kami merupakan mode sport paling ‘kalem’ yang pernah kami rasakan di EV, terutama dengan karakter mobil yang lebih sigap namun entah mengapa tetap terasa halus penyaluran tenaganya. Mungkin format penggerak mobil ini berperan besar disini…..

Kami dapat menyimpulkan jika EX2 ini sejatinya mobil yang akselerasinya sigap dengan handling yang ringan, namun disaat yang bersamaan karakter terbaik dari mobil ini adalah kualitas berkendaranya yang halus. Mobil ini bisa cepat, tetapi bukan EV yang dibuat untuk mengejar performa ekstrem. Rasanya EX2 PRO ini merupakan mobil yang pas untuk menjadi EV daily driver anda sehari-hari, terutama dengan konsumsi listrik mobil ini dengan rute kombinasi dalam dan luar kota yang membutuhkan sekitar 1 kWh untuk menempuh jarak kurang lebih 10 kilometer. Cukup impresif dengan pengetesan mobil yang mayoritas banyak Stop and Go-nya.
Mobil ini cocok buat siapa saja? Semuanya?

Setelah kurang lebih 4 hari bersama mobil ini, kami mengerti jika EX2 PRO ini bukanlah mobil listrik yang “wow” dengan fitur paling lengkap atau performa paling kencang di kelasnya. Namun, sebagai sebuah EV kecil entry level, mobil ini jelas terasa meyakinkan. Daya tarik utama dari mobil ini ada di semua kesederhanaan yang sudah saya rangkum di atas tadi; mobil ini terasa sederhana, mudah dikendarai, sekaligus EV yang sempurna bagi anda yang sedang transisi dari mobil bensin konvensional ke mobil EV yang rasanya serba “ringan dan hemat” ini.
Dengan rasa berkendaranya yang ringan, dimensinya pas untuk penggunaan dalam kota, kabin yang lega dan cukup nyaman, dan konsumsi dayanya yang termasuk hemat, EX2 tipe termurah ini dapat menjadi jawaban anda bagi yang sedang mencari mobil listrik yang tidak hanya mengandalkan harga terjangkau, tetapi juga menawarkan kenyamanan yang dipikirkan secara matang, efisiensi tingkat tinggi, dan rasa berkendara yang matang untuk kelas entry level.
Harga yang ditawarkan EX2 PRO ini pun juga menarik, dengan harga Rp 239,9 juta OTR DKI Jakarta. tipe termurah EX2 ini dapat menjadi jawaban yang pas bagi konsumen yang sedang mencari mobil listrik praktis untuk penggunaan sehari-hari. Tunggu apa lagi?



