Daihatsu Gandeng Perodua dalam Pengembangan Mobil Listrik!

Authored by: Vito Aditya

Updated: 30 Agu 2026, 11.03

4 min read

Tiga hari yang lalu (26/08), Menteri Investasi, Perdagangan, dan Perindustrian (MITI) Malaysia, Datuk Seri Johari Abdul Ghani, melakukan pertemuan dengan Wakil Menteri Parlementer Ekonomi, Perdagangan, dan Industri (METI) Jepang, Takuo Komori, untuk membahas beragam program dengan tujuan mempererat hubungan ekonomi antarnegara yang sudah berlangsung sejak 1957. Lewat postingan dari Facebook pribadi beliau, di antaranya adalah meningkatkan value chain unsur tanah jarang (REE), ekosistem pusat data Malaysia, namun yang paling menarik adalah kolaborasi pengembangan mobil listrik (BEV) Daihatsu-Perodua.

Pembahasan kolaborasi antara kedua produsen otomotif yang memiliki spesialisasi dalam merancang mobil kompak ini menjadi salah satu titik balik dalam hubungan Daihatsu dengan produsen mobil ke-2 dari Negeri Jiran ini. Selama 33 tahun sejak Perodua berdiri, Daihatsu selalu menjadi tulang punggung untuk menyuplai platform, mesin, serta teknologi yang berhubungan sebagai salah satu pemegang saham terbesar. Namun, meski demikian, Daihatsu tidak mempunyai platform BEV yang Perodua bisa gunakan untuk mengembangkan model BEV pertamanya. Alhasil, untuk memenuhi deadline yang diterapkan oleh pemerintah Malaysia pada Desember 2025, Perodua mengembangkan BEV pertama secara mandiri dengan konsultasi perusahaan teknik Austria, Magna Steyr, dan meluncurkan Perodua QV-E, mobil listrik (BEV) pertama yang dikembangkan sepenuhnya di Malaysia.

Prediksi Perodua QV-E dengan emblem Daihatsu – Diedit menggunakan Artificial Intelligence (AI)

Ada dua kemungkinan yang bisa tercapai dengan kolaborasi baru ini. Pertama adalah mengekspor Perodua QV-E dengan emblem Daihatsu ke luar negeri, terutama ke Indonesia. Opsi ini menjadi jalur paling aman karena Perodua sudah mempunyai pengalaman yang sangat lama dengan pasar Indonesi, mengingat Daihatsu Sirion merupakan model CBU dari Malaysia dan hasil rebadge dari Perodua Myvi, sehingga Indonesia menjadi pasar ekspor terbesar untuk Perodua. Secara geografis dan biaya, merebadge Perodua QV-E sebagai Daihatsu terlihat sangat masuk akal, mengingat lokalisasi komponen Perodua QV-E di Malaysia sudah mencapai 50-60%, cukup untuk mendapatkan keringanan impor berkat kebijakan ASEAN Free Trade Area (AFTA), sehingga bisa membuat harganya sangat kompetitif, terutama dengan model BEV dari China, seperti Jaecoo J5 dan Geely EX2.

Kemungkinan kedua adalah Daihatsu akan terlibat dalam pengembangan BEV untuk model segmen A (city car) yang menggunakan platform yang sama seperti QV-E, dan ada alasan yang lebih strategis dengan pilihan ini. Selama ini, Daihatsu belum mempunyai platform dan model BEV di luar e-Atrai & e-Hijet, di mana kedua model tersebut merupakan kei car untuk segmen komersial. Dengan dibukanya aksesibilitas platform BEV rancangan Perodua, Daihatsu bisa mengembangkan model BEV bukan hanya untuk mereka sendiri, tetapi juga dikembangkan dan dijual dengan lambang Toyota. Dan ini merupakan salah satu strategi yang sangat menguntungkan, mengingat permintaan BEV murah di Indonesia sedang di puncak-puncaknya.

Pabrik Astra Daihatsu Motor (ADM) Karawang Assembly Plant 2

Selain itu, pabrik Daihatsu yang terbaru di Karawang, yaitu Karawang Assembly Plant 2, sudah mempunyai kemampuan untuk merakit model elektrifikasi, termasuk model full listrik (BEV). Dengan menerapkan konsep E-SSC (Evolution, Simple, Slim, Compact), Daihatsu sudah mempunyai kemampuan untuk merakit model BEV yang bisa menekan harga jualnya di pasar Indonesia agar bisa lebih kompetitif dalam persaingan dengan model rivalnya dari China. Jelas, ini akan menjadi pilihan jangka panjang bukan hanya untuk Daihatsu (dan Toyota), tetapi juga merupakan salah satu cara bagi Perodua untuk mendapatkan pengembalian investasi (return on investment) setelah investasi dalam proyek QV-E sebesar RM800 juta (Rp3,21 triliun).

Untuk sekarang, Perodua masih dalam tahap pengembangan untuk model BEV segmen A menggunakan platform serupa dengan QV-E yang dikembangkan bersama dengan Magna Steyr, sebagai salah satu cara untuk mengamortisasi investasi untuk pengembangan dan untuk bersaing dengan Geely EX2 yang dijual sebagai Proton eMas 5 di Malaysia. Dan jika Daihatsu dan Toyota ingin melibatkan diri dalam pengembangan model ini, Perodua bisa memanfaatkan banyak hal dari kolaborasi ini untuk meningkatkan volume penjualan BEV dan mengembalikan modal pengembangan dengan memanfaatkan ekosistem Daihatsu dan Toyota yang mempunyai skala yang sangat besar. Namun, yang paling penting adalah bahwa Perodua bisa meningkatkan kualitas model BEV yang mereka kembangkan secara mandiri ini berkat input dari Toyota dan Daihatsu. Jadi, apakah sangat menarik untuk menunggu pengumuman resmi kolaborasi ini dari Daihatsu-Perodua?

Tags